Fashion: Ekspresi Diri – Dunia Fashion: Seni atau Hanya Tren yang Berulang? Fashion selalu di katakan sebagai bentuk ekspresi diri. Tapi apakah benar demikian? Ataukah kita hanya korban dari industri raksasa yang terus-menerus memaksa kita membeli sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan? Setiap tahun, tren berubah, seolah memaksa kita untuk terus mengikuti arus. Celana ketat, celana longgar, warna neon, warna pastel—semuanya datang dan pergi seperti ombak yang menghantam pantai tanpa henti.
Tren atau Tipuan?
Apakah tren benar-benar diciptakan karena alasan estetika, ataukah justru hanya siasat kapitalis untuk membuat kita terus membeli? Di balik setiap perubahan tren, tersembunyi sebuah agenda yang lebih besar—agenda yang mengarahkan kita untuk merasa bahwa apa yang kita miliki saat ini sudah tidak cukup baik, dan kita harus menggantinya dengan sesuatu yang “lebih baru.” Kita pun, tanpa sadar, terperdaya untuk berpikir bahwa pakaian yang kita miliki tahun lalu sudah “ketinggalan zaman” dan tidak relevan lagi untuk dipakai. Celana jeans yang dulunya pas, kini harus oversized, sementara sepatu yang dulu polos, kini harus penuh aksen mencolok dan berlebihan. Ini bukan sekadar soal perubahan selera, namun lebih pada strategi untuk memastikan kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah kita kamboja slot. Jika ini benar-benar adalah seni, mengapa kita diharuskan untuk terus memperbarui koleksi kita? Bukankah seni seharusnya bersifat abadi, tidak bergantung pada musim atau tekanan pasar?
Industri Mode Cepat: Kejam dan Tidak Berperasaan
Kita jarang memikirkan bagaimana pakaian kita di buat. Di balik gaun indah yang di pajang di butik mahal, ada buruh yang bekerja lebih dari 12 jam dengan bayaran yang tidak manusiawi. Fast fashion adalah mesin yang kejam—menghasilkan pakaian murah dengan harga kemanusiaan. Para pekerja di negara berkembang di paksa untuk bekerja dalam kondisi yang buruk, hanya demi memenuhi permintaan pasar akan pakaian murah dan tren yang cepat berlalu.
Merek Mewah: Simbol Status atau Sekadar Ilusi?
Tidak jauh berbeda dengan fast fashion, industri fashion mewah juga penuh dengan tipu daya. Logo besar di dada atau tas branded yang mencolok sering kali di anggap sebagai simbol kesuksesan. Tapi benarkah demikian? Ataukah kita hanya membayar harga yang tak masuk akal untuk sesuatu yang nilainya hanya sebatas citra? Banyak orang berhutang hanya demi terlihat “mampu”. Ironisnya, mereka yang benar-benar kaya sering kali tidak merasa perlu memamerkan merek.
Gaya atau Identitas?
Banyak yang berkata bahwa fashion bonus new member 100 adalah identitas. Tapi identitas seperti apa yang di bentuk dari sepotong pakaian yang di buat massal dan di pakai oleh jutaan orang lainnya? Jika semua orang memakai pakaian yang sama karena tren, di mana letak keunikan dan ekspresi diri? Ataukah kita hanya menipu diri sendiri, berpikir bahwa kita sedang menampilkan jati diri padahal sebenarnya hanya mengikuti arus?
Kesadaran atau Kebodohan?
Saatnya berhenti sejenak dan berpikir: Apakah kita benar-benar memilih pakaian kita, ataukah pilihan kita telah dimanipulasi oleh iklan, media sosial, dan tuntutan sosial? Kita sering kali tertarik pada sesuatu bukan karena kebutuhan, tetapi karena tekanan sosial yang terus-menerus membentuk standar kecantikan dan gaya yang tidak realistis. Fashion seharusnya membebaskan, bukan membelenggu.